Rabu, 23 Januari 2013

GLOKALISASI



 STRATEGI GLOKALISASI PRODUK GLOBAL TERHADAP KARAKTER PASAR LOKAL DAN IMPLIKASINYA DENGAN KEBUDAYAAN LOKAL


  STUDI KASUS : Adidas Motif Batik ( Indonesia )
                 


Oleh :         Ridwan Djuhri   1042500460
UAS  :                   Isu-Isu Global
      


 PENDAHULUAN


LATAR BELAKANG
Globalisasi memang sangat erat kaitannya dengan ekonomi internasional, yang memberi pengaruh besar pada kebudayaan dan gaya hidup. Salah satu konsep yang turut berkembang bersama globalisasi adalah glokalisasi. Glokalisasi merupakan proses dimana global mulai di lokalkan, tentu saja banyak mengubah keadaan suatu negara, namun walau kehadiran budaya global yang masuk dan bercampur dengan budaya lokal, tetapi negara tetap mencoba untuk mempertahankan eksistensi dari kebudayaan lokalnya sebagai poros pemikiran bernegara. Dapat dikatakan glokalisasi ialah penyesuaian produk global dengan karakter pasar lokal, jadi glokalisasi menjadi strategi yang muncul sebagai kritik terhadap konsep perdagangan bebas yang tidak lagi menspesialisasikan sebuah negara dalam suatu produk sesuai dengan potensinya. Maka dari itu para produsen mengkondisikan sebuah negara ( pasar ) agar berada dalam satu latar belakang sosial budaya yang sama dengan negara yang lain.
Masalah glokalisasi inilah yang sedang melanda negara indonesia, khususnya mempengaruhi pasar lokal yang mulai ada pergeseran akibat dari hadirnya produk global yang menjadikan glokalisasi sebagai strategi dalam menguasai pasar lokal dengan memanfaatkan ragam budaya indonesia untuk bagian dari strateginya memperluas pasar di indonesia. Indonesia dikenal memiliki banuak ragam budaya yang menjadikan indonesia memiliki banyak produk khas. Produk khas indonesia tersebut sering mewakili citra daerah tertentu yang tentunya menjadi citra indonesia.
Hal ini terjadi di indonesia karena indonesia diuntungkan oleh corak budaya yang berbeda antar satu daerah dengan daerah lainnya. Dengan arus globalisasi yang terjadi, kesakralan yang terkadang hadir pada produk tradisional menjadi semacam ideologi yang dipertentangkan dengan nilai-nilai modern. Nilai-nilai tradisi menjadi perhatian karena hadirnya nilai-nilai luar yang lebih mengglobal. Pada praktiknya, nilai tradisi dan nilai kapitalisme global sering dikolaborasikan sebagai refleksi akulturasi berupa budaya hidup modern. Kegiatan yang berlangsung secara terus menerus tersebut akhirnya menghasilkan suatu nilai yang kemudian diaplikasikan pada setiap objek dan ikut mewarnai perkembangan budaya yang terjadi. Keunggulan komparatif untuk memenangkan persaingan di pasar bebas sejatinya hampir mustahil dilakukan indonesia. Oleh karena itu, perlu ada keunggulan kompetitif industri kreatif yang dimiliki oleh produk indonesia untuk dapat tetap mempertahankan dan dapat bersaing dengan produk global yang memanfaatkan potensi kebudayaan lokal untuk menguasai karakter pasar lokal agar dapat terus membangun industri kreatif di indonesia.
Dalam kasus makalah ini, mengambil kasus industri global ternama Adidas, dalam kasus ini Adidas menggunakan motif batik indonesia untuk beberapa produknya seperti jaket, sepatu, topi dan lain-lain. Di sini Adidas telah mampu memproduksi sesuatu yang unik atau tidak sama dengan produk lain. Ada sebuah keunggulan kompetitif yang tidak mampu dilihat dari hanya sebatas perbedaan harga, tetapi akibat dari keunggulan tersebut masyarakat indonesia cenderung menganggap kualitas dari Adidas lebih baik dari pada kualitas lokal, itu tidak lepas dari identitas Adidas sebagai produk global.
Glokalisasi tidak bisa dihindari dan sangat berperan dalam mengubah niai-nilai tradisi khususnya pada produk, yang menjadi hal menarik adalah perubahan-perubahan pada produk tersebut sifatnya tidak hanya fisik semata, namun juga terjadi pergeseran paradigma pada masyarakat. Glokalisasi juga mengakibatkan adanya pandangan tentang suatu budaya yang tidak berakar dari suatu tradisi tertentu dan dianggap berhak berhak untuk dimiliki oleh semua orang, menembus batas wilayah dan budaya, hal ini kerap dipandang sebagai ancaman terhadap kemurnian nilai tradisi setempat.
Hal inilah yang menarik untuk dibahas dalam makalah ini, dimana Adidas sebagai produk global yang hadir dipasar indonesia, membuat suatu strategi untuk terus menjaga eksistensinya dan terus menjaga persaingan dengan produk lokal, walaupun banyak perdebatan yang mengiringi langkahnya, namun nyatanya sampai sekarang Adidas motif batik tetap hadir dan dapat diterima oleh masyarakat indonesia, dan implikasinya terhadap kebudayaan lokal indonesia.

RUMUSAN MASALAH
Setelah pemaparan latar belakang diatas, tentu diperlukan rumusan masalah untuk menjadi fokus masalah yang ingin dibahas dan ingin ditelusuri, adapun rumusan masalah yang akan dibahas yaitu :
Strategi apa yang digunakan Adidas Sebagai industri produk global untuk bersaing melawan karakter pasar lokal indonesia dan implikasinya terhadap kebudayaan lokal ( indonesia ) ????

KERANGKA TEORI
Menurut Ersel Aydinli dan James N. Rosenau, Periode pasca perang dingin membawa pola baru dalam globalisasi. Hal ini telah menjadi sangat biasa untuk menyatakan bahwa globalisasi dan regionalisasi adalah dua sisi dari koin yang sama, dan akibat dari dua hal tersebut munculah glokalisasi sebagai fenomena yang kompleks, sehingga mengakibatkan terjadinya pergeseran kuantitatif perekonomian nasional beberapa otonom menuju pasar global untuk produksi, distribusi dan teknologi.[1]
Menurut See Richard Barbrook, Barbrook melihat ekeonomi hadiah teknologi tinggi sebgai proses mengatasi kapitalsme dari dalam. Karunia berteknologi tinggi perekonomian yang melampaui budaya dan neoliberalisme pasar bebas sebagai pemikiran uang komoditas dan hubungan karunia tidak hanya dalam konflik satu sama lain, tetapi juga berdampingan. Ekonomi tidak enggan dalam menggunakan sumber daya pasar dan pendanaan pemerintah, Penyediaan kerja bebas seperti yang kita lihat adalah momen fondumental dalam penciptaan nilai ekonomi digital. Seperti yang akan dijelaskan, kondisi yang membuat kerja bebas yang penting elemen ekonomi digital yang berbasis kompromi antara keinginan budaya dan afektif historis berakar untuk kreatf priduksi ( Dari jenis yang lebih umum terkait dengan penekanan pada pembebasan diri individu dan komunal penciptaan ) dan penekanan pada pengetahuan kapitalis saat ini sebagai sumber utama. Seperti yang dilakukan oleh para relawan untuk America online, NetSlaves, dan amatir Desainer Web tidak bekerja hanya krena ingin modal mereka. Mereka bertindak untuk produksi afektif dan budaya yang walaupun nyata hanya karena secara sosial berbentuk. Kultural, teknis dan kreatif yang mendukung perekonomian, kerja bebas adalah saat dimana konsumsi ini berpengetahuan budaya diterjemahkan ke dalam kegiatan produktif dan pada saat yang same sering dieksploitasi.[2]
Menurut Mc Cormack, Brian, definisi dari titik globalisasiketerkitan jauh lokasi di acara membentuk dan konsekuensi yaitu kompresi ruang waktu karena inovasi teknologi dan arus budaya. Globalisasi kadang dilihat sebagai universalisasi dan homogenisasi kebudayaan di amerika gaya konsumen masyarakat atau sebaliknya, mengambil bentuk fragmentasi dan lokalisasi. Seiring dengan globalisasi kata yang telah menjadi bagian dari penggunaan sehari-hari, ada juga istilah yang mencoba untuk menggambarkan kompleksitas dan kontradiksi globalisasi dengan mengatakan dunia akan melalui globalisasi atau “fragmegration dan glokalisasi”. Dapat dilihat sebagai kontinuitas politik dunia atau sebagai suatu transformasi yang mendasar dari masa lalu. Globalisasi menarik begitu banya perhatian teoritis karena cara ( mungkin sederhana ) sederhana mendefinisikan, Mc Cormack juga berpendapat bahwa globalisasi sendiri telah menjadi sebuah kategori yang berisi semua elemen yang berbeda dari globalisasi.[3]
Menurut George Ritzer, perspektif dominan pada masalah ini adalah gagasan dari glokal ( proses glokalisasi ), namun ini mengabaikan grobalization yang menyoroti fakta bahwa ada proses global yang membanjiri yang lokal. Mengingat kedua istilah ini, kunci dinamis dalam proses globalisasi bergeser dari ketegangan antara lokal dan global. Teori glokalisasi melihat bentuk-bentuk budaya sebagai praktek-praktek untuk operasi dalam ketegangan terus-menerus antara global dan lokal. Melihat istilah grobal dan local lebih instruktif dalam hal ini. Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa hampir tidak ada daerah atau fenomena seluruh dunia tidak terpengaruh oleh globalisasi. Hal ini menyiratkan menurun atau bahkan menghilang, relevansi lokal kebutuhan, untuk konsep hampir semua yang kita pikirkan sebagai lokal sebagai glokal. Dengan demikian kontinum prosesual dan empiris melelui mana kita mengkonsep globalisasi dibatasi oleh grobalisasi ( ambisi imperialistis negara, perusahaan, organisasi, dan sejenisnya dan keinginan mereka memang perlu untuk memaksakan diri pada berbagai wilayah geografis ) dan glokalisasi ( yang interpenetrasi global dan glokal sehingga hasil yang unik diwilayah geografis yang berbeda ).[4]


 PEMBAHASAN

           

ANALISIS ( ARGUMENT )

Dari berbagai teori beberapa ahli tersebut, maka dapat dianalisa bahwa kebanyakan dari para ahli mengemukakan bahwa glokalisasi sebagai  konsep dari pada globalisasi, dan glokalisasi erat kaitannya dengan percampuran pengaruh global yang masuk ke dalam budaya lokal sehingga menjadi sesuatu yang baru, entah itu merugikan ataupun menguntungkan tergantung dari pada lokal itu sendiri untuk menyikapinya. Glokalisasi juga sangat memiliki kaitan yang erat dengan ekonomi global, karena banyak perusahaan-perusahaan dan industri global menggunakan strategi glokalisasi dengan memanfaatkan potensi budaya lokal untuk bersaing dengan pasar lokal. Hal itulah yang dilakukan oleh industri global ternama Adidas dalam strateginya untuk terus menjaga eksistensinya dipasar lokal indonesia dan terus bersaing dengan produk global terutama dengan mengikuti arus karakter pasar lokal agar apapun yang diproduksi dapat diterima oleh masyarakat indonesia.
Dalam strateginya, Adidas memanfaatkan potensi budaya indonesia yang selama ini menjadi warisan budaya indonesia, warisan budaya itu ialah “ Batik”. Adidas memakai motif batik pada setiap produknya seperti jaket, sepatu dan topi, hal itu dilakukan untuk menarik minat masyarakat indonesia. Ada beberapa alsasan kenapa motif batik yang dipakai oleh adidas, karena Adidas tertarik memberikan sentuhan tradisional yang muncul dari motif batik, karena batik sendiri terus menjadi bahan perbincangan setelah beberapa kasus klaim klaim batik yang juga menjadi identitas bangsa indonesia oleh bangsa lain memunculkan kepanikan tersendiri yang mengakibatkan tema batik menjadi menarik dan sepertinya semua kalangan ikut memperbincangkannya.
Kepanikan inilah yang dimanfaatkan oleh Adidas dengan produk-produknya yang bertema batik dengan cara memberikan sentuhan batik pada produkya dan lantas disebut sebagai produk khas indonesia. Namun dengan status Adidas yang merupakan industri global dan bukan industri lokal, maka masyarakat pun banyak yang berfikir kalau pemakaian motif batik oleh Adidas dikatakan hanya memanfaatkan potensi budaya indonesia untuk masuk kedalam karakter pasar lokal yang lebih tahu selukbeluk persaingan pasar bebas di indonesia.    


Jenis produknya sendiri merupakan simbol tersendiri yang memiliki makna. Makna yang menyeluruh dan utuh yang terbangun dari suatu produk dihasilkan oleh simbol-simbol yang saling membangun pada produk tersebut. Mungkin karena semangat gaya hidup etnik dan sub kultural yang menggebu, produk apapun detempeli motif internasional. Namun nilai tradisi yanh muncul menjadi kabur karena sering produk yang ditempeli ternyata tidak memiliki kaitan historikal, cultural atau religius yang sama dengan motifnya, sehungga pemaknaan menjadi saling bertabrakan dan kesakralan motif batik menjadi tidak ada. Motif batik hanya menjadi patron estetika visual saja, saat ini dapat dilihat begitu banyak mode produk-produk bercorak dan bermotif batik seperti yang dilakukan oleh Adidas dengan beralasan bahwa objek tersebut mengandung nilai tradisi, padahal perlu di cek ulang tentang kaitan antara sejarah, idiologi, agama dan kebudayaan indonesia dengan produk tersebut.

DISKUSI  ( KAJIAN TEORITIS )

Seperti teori yang dikemukakan oleh Ersel Aydinli dan James N.Rosenau, munculnya glokalisasi sebagai fenomena yang kompleks sehingga mengakibatkan terjadinya pergeseran kuantitatif perekonomian nasional beberapa otonom menuju pasar global untuk produksi, distribusi dan teknologi. Keuntungan ekonomis dan latar belakang pragmatis lainnya sering membuat produk tradisi hanya dinilai sebagai penarik perhatian dan pemberi informasi suatu daerah tertentu. Kesakralan produk sering tidak lagi muncul karena produk tradisi sudah diperlakukan sebagai produk komoditi. Kriya sebagai ekspresi rakyat dengan beberapa kenyataan bahwa produk tradisi tidak lagi berlandaskan nilai tradisi menjadi sebuah paradoks yang harus dikaji lebih mendalam. Saat kepentingan ekonomi menjadi prioritas, produk tradisional akan memiliki fungsi ganda, yaitu sebagai produk tradisi, cerminan budaya, dan sebagai produk komoditi. Produk tradisi yang telah mengalami industrialisasi akan mengalami perubahan teknik pembuatan yang berbeda dari apa yang telah diwariskan, pembuatan produk tradisi memiliki pemenuhan nilai-nilai spiritual, sedangkan pembuatan produk secara industri beriorientasi pada kuantitas sedangkan kualitas produk hanya sebatas kekuatan dan keindahan fisik saja.

Sedangkan teori menurut See Richard Barbrook, ia melihat ekonomi dengan segala kesan dan alat modern teknologi tinggi sebagai proses mengatasi kapitalisme dari dalam, dengan segala bentuk modernnya perekonomian dapat melampaui budaya dan menjadikan budaya sebagian dari strategi produk dalam pasar bebas, hal inilah yang menjadi dampak atau implikasi dengan hadirnya industri global yang memanfaatkan potensi tradisi kebudayaan lokal untuk terus menyatu dengan karakter pasar lokal agar dapat diterima di dalam masyarakat lokal tanpa memikirkan nilai-nilai budaya lokal yang sesungguhnya. Kesakralan tradisi lokal dan kepentingan ekonomis industri cukup menimbulkan kebingungan sikap antara menempeli budaya lokal dengan nilai global atau menempeli budaya global dengan nilai tradisi. Kebingungan tersebut terlihat pada produk-produk yang bernilai tradisi namun diperlakukan sebagai produk komoditi, yang menjadi kekhawatiran adalah bahwa dengan kondisi seperti ini, siapapun dapat memproduksi suatu barang dengan nilai yang sama tanpa harus memiliki keterkaitan historikal, cultural atau religius dengan keberadaan barang tersebut. Nilai-nilai tradisi yang ditabrakan dengan nilai-nilai kapitalisme global akan mengalami perkembangannya sendiri. Mungkin saja nilai tradisi akan menjadi salah satu instrument kapitalisme global yang akan menembus batas ruang dan wilayah kebudayaan sehingga semua kalangan merasa berhak untuk memilikinya. Tentu ada konsekuensinya tersendiri yang akan ikut menyertainya yaitu eksklusifitas tema tradisional menjadi semakin kabur. Namun disatu sisi, bisa saja kondisi ini akan menghasilkan banyak keuntungan secara ekonomis, karena saat suatu nilai mulai dikenal dan disukai oleh pihak-pihak luar, maka peluang untuk menginvasi budaya bisa dimulai melalui barang-barang yang selamatkan nilai tradisi di dalamnya.
Kasus Adidas motif batik hanyalah segelintir dibalik banyaknya kasus-kasus yang melibatkan budaya di indonesia, khususnya di dalam pasar bebas yang dengan mudahnya produk global keluar masuk dan dengan mudahnya produk global untuk memanfaatkan budaya tradisi di indonesia sebagai strateginya untuk membuat produk globalnya berkarakter seperti produk lokal. Dari diskusi dan penjabaran teori diatas  
Memang sangat berkaitan dan berhubungan dengan kasus Adidas motif batik, Adidas memang memakai strategi glokalisasi untuk semua prospek dan tujuannya, tetapi apapun tujuannya tetap saja Adidas ingin memperluas produknya ditengah geliat pasar lokal yang sedang berkembang sehingga Adidas sebagai produk global dapat membaca bagaimana keadaan dan karakter pasar lokal yang berjalan.
Dari semua strategi itu, tentunya ada dampak atau implikasinya untuk budaya lokal indonesia dan produk tradisi indonesia semakin kabur dan memberikan kesan esklusifisme kepada produk lokal karena campuran dari produk global tersebut. Selain itu, implikasi dari hal tersebut dapat digolongkan dalam dua bagian besar yang pertama yaitu penempelan ragam hias, simbol-simbol, maupun corak-corak tradisional pada produk-produk yang datang dari kebudayaan global, dan yang kedua ialah dari teknik pengolahan maupun material lokal yang diterapkan produk-produk bukan bukan tradisional yang tidak memiliki ketekaitan baik budaya, sejarah dan agama dengan tempat objek tersebut dihasilkan. Akibatnya kesakralan produk tradisi sering tidak lagi muncul karena sudah diperlakukan sebagai produk komoditi.
Nilai tradisi yang bertemu dengan nilai kapitalis global secara akulturatif memungkinkan untuk bergesernya nilai tradisi menjadi salah satu instrument sistem kapitalisme global. Nilai tradisi menjadi nilai ekonomi yang menguntungkan yang dihasilkan melalui proses industrialisasi. Industri berperan besar sebagai pihak yang menggeser tata cara pengerjaan tradisional ke tata cara pengerjaan modern, sehingga proses pengerjaan produk secara tradisional yang bisa memperlambat pemenuhan barang secara kuantitas bisa dibatasi meskipun nilai pemenuhan spiritual dari proses pengerjaan tradisional menjadi tereduksi. Maka dari itu nilai tradisi dianggap ssebagai bentuk kesadaran kembali setelah nilai modern ( global ) masuk dan mengambil alih banyak nilai lokal ( glokalisasi ), nilai tradisi juga merupakan bagian dari perkembangan gaya hidup.





KESIMPULAN
           
            Dari yang sudah dijelaskan didalam pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa strategi glokalisasi memang terbukti sangat jitu untuk sebuah produk global menyesuaikan produknya dengan karakter pasar dan budaya lokal, dan glokalisasi menjadi cara yang ampuh agar globalisasi tidak meracuni tradisi lokal. Bertemunya dua nilai kebudayaan yang menjadi semacam penempelan dua nilai budaya terlihat cukup jelas di produk-produk yang ada. Gaya hidup modern yang semakin melekat dimasyarakat sering mengakibatkan makna tradisi mengalami pergeseran nilai dan penyempitan arti.
Nilai tradisi hanya dinilai dari apa yang nampak secara penglihatan saja dan nilai tradisi yang lebih dalam menembus konteks kultural, historikal, maupun agama, sepertinya sudah tidak lagi diperhatikan, itu akibat dari dampak atau implikasi dari masuknya produk global ke dalam produk lokal dengan memanfaatkan potensi  kebudayaan sebagai strateginya. Sebagai contoh penggunaan motif batik indonesia yang dilakukan industri global Adidas pada produk-produknya. Selain itu dampak atau implikasi untuk budaya lokal indonesia ialah semakin kabur dan memberikan kesan esklusifisme kepada produk lokal indonesia karena percampuran dari produk global tersebut.
Maka untuk menyikapi semua hal tersebut, tergantung bagaimana masyarakat lokal menyikapinya, dengan segala macam pengaruh global yang masuk melalui industri dan produk-produknya, seharusnya masyarakat lokal lebih dewasa dalam hal ini, dengan menerima hal tersebut asalkan masih dalam konteks positif, tetapi jangan tinggalkan kesan sesungguhnya dari kebudayaan yang telah dimanfaatkan produk global dan tetap cinta kepada produk lokal dan tidak menghilangkan karakter pasar lokal yang sudah menjadi karakter atau identitas perekonomian lokal, dengan begitu dapat meminimalisir dampak atau implikasi dari strategi glokalisasi yang dilakukan industri global melalui produk-produknya, serta dengan begitu juga tidak akan ada pergeseran nilai-nilai tradisi lokal yang merupakan identitas dan jatidiri dari kebudayaan lokal suatu negara.







 



DAFTAR PUSTAKA


Globalization, security, and the nation-state : paradigms in transition / edited byErsel Aydinli & James N.  Rosenau.

See Richard Barbrook, “The Digital Economy,” (posted to nettime on 17 June 1997; also at www.nettime.org;  Dalam Free Labor Producing Culture For The Digital Economy The real not-capital is labor. Karl Marx, Grundrisse.

McCormack, Brian (2002) Postcolonialism in an Age of Globalization: Opening International Relations Theory to Identities in Movement, Alternatives 27 (1), pp. 99–116.

The grobal in the sporting glocal, DAVID L. ANDREWS AND GEORGE RITZERPhysical Cultural Studies Program, Department of Kinesiology, 2359 HHP Building, University of Maryland, College Park,










    Word Count : 2.797
           
                   

           


[1] Globalization, security, and the nation-state : paradigms in transition / edited byErsel Aydinli & James N.  Rosenau.

[2] See Richard Barbrook, “The Digital Economy,” (posted to nettime on 17 June 1997; also at www.nettime.org;  Dalam Free Labor Producing Culture For The Digital Economy The real not-capital is labor. Karl Marx, Grundrisse.
[3]McCormack, Brian (2002) Postcolonialism in an Age of Globalization: Opening International Relations Theory to Identities in Movement, Alternatives 27 (1), pp. 99–116.

[4] The grobal in the sporting glocal, DAVID L. ANDREWS AND GEORGE RITZER


Tidak ada komentar:

Posting Komentar