STRATEGI GLOKALISASI PRODUK GLOBAL TERHADAP
KARAKTER PASAR LOKAL DAN IMPLIKASINYA DENGAN KEBUDAYAAN LOKAL
STUDI KASUS :
Adidas Motif Batik ( Indonesia )
UAS : Isu-Isu
Global
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Globalisasi
memang sangat erat kaitannya dengan ekonomi internasional, yang memberi
pengaruh besar pada kebudayaan dan gaya hidup. Salah satu konsep yang turut
berkembang bersama globalisasi adalah glokalisasi. Glokalisasi merupakan proses
dimana global mulai di lokalkan, tentu saja banyak mengubah keadaan suatu
negara, namun walau kehadiran budaya global yang masuk dan bercampur dengan
budaya lokal, tetapi negara tetap mencoba untuk mempertahankan eksistensi dari
kebudayaan lokalnya sebagai poros pemikiran bernegara. Dapat dikatakan
glokalisasi ialah penyesuaian produk global dengan karakter pasar lokal, jadi
glokalisasi menjadi strategi yang muncul sebagai kritik terhadap konsep
perdagangan bebas yang tidak lagi menspesialisasikan sebuah negara dalam suatu
produk sesuai dengan potensinya. Maka dari itu para produsen mengkondisikan
sebuah negara ( pasar ) agar berada dalam satu latar belakang sosial budaya
yang sama dengan negara yang lain.
Masalah
glokalisasi inilah yang sedang melanda negara indonesia, khususnya mempengaruhi
pasar lokal yang mulai ada pergeseran akibat dari hadirnya produk global yang
menjadikan glokalisasi sebagai strategi dalam menguasai pasar lokal dengan memanfaatkan
ragam budaya indonesia untuk bagian dari strateginya memperluas pasar di
indonesia. Indonesia dikenal memiliki banuak ragam budaya yang menjadikan
indonesia memiliki banyak produk khas. Produk khas indonesia tersebut sering
mewakili citra daerah tertentu yang tentunya menjadi citra indonesia.
Hal
ini terjadi di indonesia karena indonesia diuntungkan oleh corak budaya yang
berbeda antar satu daerah dengan daerah lainnya. Dengan arus globalisasi yang
terjadi, kesakralan yang terkadang hadir pada produk tradisional menjadi
semacam ideologi yang dipertentangkan dengan nilai-nilai modern. Nilai-nilai
tradisi menjadi perhatian karena hadirnya nilai-nilai luar yang lebih
mengglobal. Pada praktiknya, nilai tradisi dan nilai kapitalisme global sering
dikolaborasikan sebagai refleksi akulturasi berupa budaya hidup modern.
Kegiatan yang berlangsung secara terus menerus tersebut akhirnya menghasilkan
suatu nilai yang kemudian diaplikasikan pada setiap objek dan ikut mewarnai
perkembangan budaya yang terjadi. Keunggulan komparatif untuk memenangkan
persaingan di pasar bebas sejatinya hampir mustahil dilakukan indonesia. Oleh
karena itu, perlu ada keunggulan kompetitif industri kreatif yang dimiliki oleh
produk indonesia untuk dapat tetap mempertahankan dan dapat bersaing dengan
produk global yang memanfaatkan potensi kebudayaan lokal untuk menguasai
karakter pasar lokal agar dapat terus membangun industri kreatif di indonesia.
Dalam
kasus makalah ini, mengambil kasus industri global ternama Adidas, dalam kasus ini
Adidas menggunakan motif batik indonesia untuk beberapa produknya seperti
jaket, sepatu, topi dan lain-lain. Di sini Adidas telah mampu memproduksi
sesuatu yang unik atau tidak sama dengan produk lain. Ada sebuah keunggulan
kompetitif yang tidak mampu dilihat dari hanya sebatas perbedaan harga, tetapi
akibat dari keunggulan tersebut masyarakat indonesia cenderung menganggap
kualitas dari Adidas lebih baik dari pada kualitas lokal, itu tidak lepas dari
identitas Adidas sebagai produk global.
Glokalisasi
tidak bisa dihindari dan sangat berperan dalam mengubah niai-nilai tradisi
khususnya pada produk, yang menjadi hal menarik adalah perubahan-perubahan pada
produk tersebut sifatnya tidak hanya fisik semata, namun juga terjadi
pergeseran paradigma pada masyarakat. Glokalisasi juga mengakibatkan adanya
pandangan tentang suatu budaya yang tidak berakar dari suatu tradisi tertentu
dan dianggap berhak berhak untuk dimiliki oleh semua orang, menembus batas
wilayah dan budaya, hal ini kerap dipandang sebagai ancaman terhadap kemurnian
nilai tradisi setempat.
Hal
inilah yang menarik untuk dibahas dalam makalah ini, dimana Adidas sebagai
produk global yang hadir dipasar indonesia, membuat suatu strategi untuk terus
menjaga eksistensinya dan terus menjaga persaingan dengan produk lokal,
walaupun banyak perdebatan yang mengiringi langkahnya, namun nyatanya sampai
sekarang Adidas motif batik tetap hadir dan dapat diterima oleh masyarakat
indonesia, dan implikasinya terhadap kebudayaan lokal indonesia.
RUMUSAN
MASALAH
Setelah
pemaparan latar belakang diatas, tentu diperlukan rumusan masalah untuk menjadi
fokus masalah yang ingin dibahas dan ingin ditelusuri, adapun rumusan masalah
yang akan dibahas yaitu :
Strategi apa
yang digunakan Adidas Sebagai industri produk global untuk bersaing melawan
karakter pasar lokal indonesia dan implikasinya terhadap kebudayaan lokal (
indonesia ) ????
KERANGKA TEORI
Menurut
Ersel Aydinli dan James N. Rosenau, Periode pasca perang dingin membawa pola
baru dalam globalisasi. Hal ini telah menjadi sangat biasa untuk menyatakan
bahwa globalisasi dan regionalisasi adalah dua sisi dari koin yang sama, dan
akibat dari dua hal tersebut munculah glokalisasi sebagai fenomena yang
kompleks, sehingga mengakibatkan terjadinya pergeseran kuantitatif perekonomian
nasional beberapa otonom menuju pasar global untuk produksi, distribusi dan
teknologi.[1]
Menurut
See Richard Barbrook, Barbrook melihat ekeonomi hadiah teknologi tinggi sebgai
proses mengatasi kapitalsme dari dalam. Karunia berteknologi tinggi
perekonomian yang melampaui budaya dan neoliberalisme pasar bebas sebagai
pemikiran uang komoditas dan hubungan karunia tidak hanya dalam konflik satu
sama lain, tetapi juga berdampingan. Ekonomi tidak enggan dalam menggunakan
sumber daya pasar dan pendanaan pemerintah, Penyediaan kerja bebas seperti yang
kita lihat adalah momen fondumental dalam penciptaan nilai ekonomi digital.
Seperti yang akan dijelaskan, kondisi yang membuat kerja bebas yang penting elemen
ekonomi digital yang berbasis kompromi antara keinginan budaya dan afektif
historis berakar untuk kreatf priduksi ( Dari jenis yang lebih umum terkait
dengan penekanan pada pembebasan diri individu dan komunal penciptaan ) dan
penekanan pada pengetahuan kapitalis saat ini sebagai sumber utama. Seperti
yang dilakukan oleh para relawan untuk America online, NetSlaves, dan amatir
Desainer Web tidak bekerja hanya krena ingin modal mereka. Mereka bertindak
untuk produksi afektif dan budaya yang walaupun nyata hanya karena secara
sosial berbentuk. Kultural, teknis dan kreatif yang mendukung perekonomian, kerja
bebas adalah saat dimana konsumsi ini berpengetahuan budaya diterjemahkan ke
dalam kegiatan produktif dan pada saat yang same sering dieksploitasi.[2]
Menurut
Mc Cormack, Brian, definisi dari titik globalisasiketerkitan jauh lokasi di
acara membentuk dan konsekuensi yaitu kompresi ruang waktu karena inovasi teknologi
dan arus budaya. Globalisasi kadang dilihat sebagai universalisasi dan
homogenisasi kebudayaan di amerika gaya konsumen masyarakat atau sebaliknya,
mengambil bentuk fragmentasi dan lokalisasi. Seiring dengan globalisasi kata
yang telah menjadi bagian dari penggunaan sehari-hari, ada juga istilah yang
mencoba untuk menggambarkan kompleksitas dan kontradiksi globalisasi dengan
mengatakan dunia akan melalui globalisasi atau “fragmegration dan glokalisasi”.
Dapat dilihat sebagai kontinuitas politik dunia atau sebagai suatu transformasi
yang mendasar dari masa lalu. Globalisasi menarik begitu banya perhatian
teoritis karena cara ( mungkin sederhana ) sederhana mendefinisikan, Mc Cormack
juga berpendapat bahwa globalisasi sendiri telah menjadi sebuah kategori yang
berisi semua elemen yang berbeda dari globalisasi.[3]
Menurut
George Ritzer, perspektif dominan pada masalah ini adalah gagasan dari glokal (
proses glokalisasi ), namun ini mengabaikan grobalization yang menyoroti fakta
bahwa ada proses global yang membanjiri yang lokal. Mengingat kedua istilah
ini, kunci dinamis dalam proses globalisasi bergeser dari ketegangan antara
lokal dan global. Teori glokalisasi melihat bentuk-bentuk budaya sebagai
praktek-praktek untuk operasi dalam ketegangan terus-menerus antara global dan
lokal. Melihat istilah grobal dan local lebih instruktif dalam hal ini. Hal ini
didasarkan pada asumsi bahwa hampir tidak ada daerah atau fenomena seluruh
dunia tidak terpengaruh oleh globalisasi. Hal ini menyiratkan menurun atau
bahkan menghilang, relevansi lokal kebutuhan, untuk konsep hampir semua yang
kita pikirkan sebagai lokal sebagai glokal. Dengan demikian kontinum prosesual
dan empiris melelui mana kita mengkonsep globalisasi dibatasi oleh grobalisasi
( ambisi imperialistis negara, perusahaan, organisasi, dan sejenisnya dan
keinginan mereka memang perlu untuk memaksakan diri pada berbagai wilayah
geografis ) dan glokalisasi ( yang interpenetrasi global dan glokal sehingga
hasil yang unik diwilayah geografis yang berbeda ).[4]
PEMBAHASAN
ANALISIS (
ARGUMENT )
Dari
berbagai teori beberapa ahli tersebut, maka dapat dianalisa bahwa kebanyakan
dari para ahli mengemukakan bahwa glokalisasi sebagai konsep dari pada globalisasi, dan glokalisasi
erat kaitannya dengan percampuran pengaruh global yang masuk ke dalam budaya lokal
sehingga menjadi sesuatu yang baru, entah itu merugikan ataupun menguntungkan
tergantung dari pada lokal itu sendiri untuk menyikapinya. Glokalisasi juga
sangat memiliki kaitan yang erat dengan ekonomi global, karena banyak
perusahaan-perusahaan dan industri global menggunakan strategi glokalisasi
dengan memanfaatkan potensi budaya lokal untuk bersaing dengan pasar lokal. Hal
itulah yang dilakukan oleh industri global ternama Adidas dalam strateginya
untuk terus menjaga eksistensinya dipasar lokal indonesia dan terus bersaing
dengan produk global terutama dengan mengikuti arus karakter pasar lokal agar
apapun yang diproduksi dapat diterima oleh masyarakat indonesia.
Dalam
strateginya, Adidas memanfaatkan potensi budaya indonesia yang selama ini
menjadi warisan budaya indonesia, warisan budaya itu ialah “ Batik”. Adidas
memakai motif batik pada setiap produknya seperti jaket, sepatu dan topi, hal
itu dilakukan untuk menarik minat masyarakat indonesia. Ada beberapa alsasan
kenapa motif batik yang dipakai oleh adidas, karena Adidas tertarik memberikan
sentuhan tradisional yang muncul dari motif batik, karena batik sendiri terus
menjadi bahan perbincangan setelah beberapa kasus klaim klaim batik yang juga
menjadi identitas bangsa indonesia oleh bangsa lain memunculkan kepanikan
tersendiri yang mengakibatkan tema batik menjadi menarik dan sepertinya semua
kalangan ikut memperbincangkannya.
Kepanikan
inilah yang dimanfaatkan oleh Adidas dengan produk-produknya yang bertema batik
dengan cara memberikan sentuhan batik pada produkya dan lantas disebut sebagai
produk khas indonesia. Namun dengan status Adidas yang merupakan industri
global dan bukan industri lokal, maka masyarakat pun banyak yang berfikir kalau
pemakaian motif batik oleh Adidas dikatakan hanya memanfaatkan potensi budaya
indonesia untuk masuk kedalam karakter pasar lokal yang lebih tahu selukbeluk
persaingan pasar bebas di indonesia.
Jenis
produknya sendiri merupakan simbol tersendiri yang memiliki makna. Makna yang
menyeluruh dan utuh yang terbangun dari suatu produk dihasilkan oleh
simbol-simbol yang saling membangun pada produk tersebut. Mungkin karena
semangat gaya hidup etnik dan sub kultural yang menggebu, produk apapun
detempeli motif internasional. Namun nilai tradisi yanh muncul menjadi kabur
karena sering produk yang ditempeli ternyata tidak memiliki kaitan historikal,
cultural atau religius yang sama dengan motifnya, sehungga pemaknaan menjadi
saling bertabrakan dan kesakralan motif batik menjadi tidak ada. Motif batik
hanya menjadi patron estetika visual saja, saat ini dapat dilihat begitu banyak
mode produk-produk bercorak dan bermotif batik seperti yang dilakukan oleh
Adidas dengan beralasan bahwa objek tersebut mengandung nilai tradisi, padahal
perlu di cek ulang tentang kaitan antara sejarah, idiologi, agama dan
kebudayaan indonesia dengan produk tersebut.
DISKUSI ( KAJIAN TEORITIS )
Seperti
teori yang dikemukakan oleh Ersel Aydinli dan James N.Rosenau, munculnya
glokalisasi sebagai fenomena yang kompleks sehingga mengakibatkan terjadinya
pergeseran kuantitatif perekonomian nasional beberapa otonom menuju pasar
global untuk produksi, distribusi dan teknologi. Keuntungan ekonomis dan latar
belakang pragmatis lainnya sering membuat produk tradisi hanya dinilai sebagai
penarik perhatian dan pemberi informasi suatu daerah tertentu. Kesakralan
produk sering tidak lagi muncul karena produk tradisi sudah diperlakukan
sebagai produk komoditi. Kriya sebagai ekspresi rakyat dengan beberapa
kenyataan bahwa produk tradisi tidak lagi berlandaskan nilai tradisi menjadi
sebuah paradoks yang harus dikaji lebih mendalam. Saat kepentingan ekonomi
menjadi prioritas, produk tradisional akan memiliki fungsi ganda, yaitu sebagai
produk tradisi, cerminan budaya, dan sebagai produk komoditi. Produk tradisi
yang telah mengalami industrialisasi akan mengalami perubahan teknik pembuatan
yang berbeda dari apa yang telah diwariskan, pembuatan produk tradisi memiliki pemenuhan
nilai-nilai spiritual, sedangkan pembuatan produk secara industri beriorientasi
pada kuantitas sedangkan kualitas produk hanya sebatas kekuatan dan keindahan
fisik saja.
Sedangkan
teori menurut See Richard Barbrook, ia melihat ekonomi dengan segala kesan dan
alat modern teknologi tinggi sebagai proses mengatasi kapitalisme dari dalam,
dengan segala bentuk modernnya perekonomian dapat melampaui budaya dan
menjadikan budaya sebagian dari strategi produk dalam pasar bebas, hal inilah
yang menjadi dampak atau implikasi dengan hadirnya industri global yang
memanfaatkan potensi tradisi kebudayaan lokal untuk terus menyatu dengan
karakter pasar lokal agar dapat diterima di dalam masyarakat lokal tanpa memikirkan
nilai-nilai budaya lokal yang sesungguhnya. Kesakralan tradisi lokal dan
kepentingan ekonomis industri cukup menimbulkan kebingungan sikap antara
menempeli budaya lokal dengan nilai global atau menempeli budaya global dengan
nilai tradisi. Kebingungan tersebut terlihat pada produk-produk yang bernilai
tradisi namun diperlakukan sebagai produk komoditi, yang menjadi kekhawatiran
adalah bahwa dengan kondisi seperti ini, siapapun dapat memproduksi suatu
barang dengan nilai yang sama tanpa harus memiliki keterkaitan historikal,
cultural atau religius dengan keberadaan barang tersebut. Nilai-nilai tradisi
yang ditabrakan dengan nilai-nilai kapitalisme global akan mengalami
perkembangannya sendiri. Mungkin saja nilai tradisi akan menjadi salah satu
instrument kapitalisme global yang akan menembus batas ruang dan wilayah
kebudayaan sehingga semua kalangan merasa berhak untuk memilikinya. Tentu ada
konsekuensinya tersendiri yang akan ikut menyertainya yaitu eksklusifitas tema
tradisional menjadi semakin kabur. Namun disatu sisi, bisa saja kondisi ini
akan menghasilkan banyak keuntungan secara ekonomis, karena saat suatu nilai
mulai dikenal dan disukai oleh pihak-pihak luar, maka peluang untuk menginvasi
budaya bisa dimulai melalui barang-barang yang selamatkan nilai tradisi di
dalamnya.
Kasus
Adidas motif batik hanyalah segelintir dibalik banyaknya kasus-kasus yang
melibatkan budaya di indonesia, khususnya di dalam pasar bebas yang dengan
mudahnya produk global keluar masuk dan dengan mudahnya produk global untuk
memanfaatkan budaya tradisi di indonesia sebagai strateginya untuk membuat
produk globalnya berkarakter seperti produk lokal. Dari diskusi dan penjabaran
teori diatas
Memang sangat
berkaitan dan berhubungan dengan kasus Adidas motif batik, Adidas memang
memakai strategi glokalisasi untuk semua prospek dan tujuannya, tetapi apapun
tujuannya tetap saja Adidas ingin memperluas produknya ditengah geliat pasar
lokal yang sedang berkembang sehingga Adidas sebagai produk global dapat
membaca bagaimana keadaan dan karakter pasar lokal yang berjalan.
Dari
semua strategi itu, tentunya ada dampak atau implikasinya untuk budaya lokal
indonesia dan produk tradisi indonesia semakin kabur dan memberikan kesan
esklusifisme kepada produk lokal karena campuran dari produk global tersebut.
Selain itu, implikasi dari hal tersebut dapat digolongkan dalam dua bagian
besar yang pertama yaitu penempelan ragam hias, simbol-simbol, maupun
corak-corak tradisional pada produk-produk yang datang dari kebudayaan global,
dan yang kedua ialah dari teknik pengolahan maupun material lokal yang
diterapkan produk-produk bukan bukan tradisional yang tidak memiliki ketekaitan
baik budaya, sejarah dan agama dengan tempat objek tersebut dihasilkan.
Akibatnya kesakralan produk tradisi sering tidak lagi muncul karena sudah
diperlakukan sebagai produk komoditi.
Nilai
tradisi yang bertemu dengan nilai kapitalis global secara akulturatif
memungkinkan untuk bergesernya nilai tradisi menjadi salah satu instrument
sistem kapitalisme global. Nilai tradisi menjadi nilai ekonomi yang
menguntungkan yang dihasilkan melalui proses industrialisasi. Industri berperan
besar sebagai pihak yang menggeser tata cara pengerjaan tradisional ke tata
cara pengerjaan modern, sehingga proses pengerjaan produk secara tradisional
yang bisa memperlambat pemenuhan barang secara kuantitas bisa dibatasi meskipun
nilai pemenuhan spiritual dari proses pengerjaan tradisional menjadi tereduksi.
Maka dari itu nilai tradisi dianggap ssebagai bentuk kesadaran kembali setelah
nilai modern ( global ) masuk dan mengambil alih banyak nilai lokal (
glokalisasi ), nilai tradisi juga merupakan bagian dari perkembangan gaya
hidup.
KESIMPULAN
Dari yang sudah dijelaskan didalam
pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa strategi glokalisasi memang terbukti
sangat jitu untuk sebuah produk global menyesuaikan produknya dengan karakter
pasar dan budaya lokal, dan glokalisasi menjadi cara yang ampuh agar
globalisasi tidak meracuni tradisi lokal. Bertemunya dua nilai kebudayaan yang
menjadi semacam penempelan dua nilai budaya terlihat cukup jelas di
produk-produk yang ada. Gaya hidup modern yang semakin melekat dimasyarakat
sering mengakibatkan makna tradisi mengalami pergeseran nilai dan penyempitan
arti.
Nilai
tradisi hanya dinilai dari apa yang nampak secara penglihatan saja dan nilai
tradisi yang lebih dalam menembus konteks kultural, historikal, maupun agama,
sepertinya sudah tidak lagi diperhatikan, itu akibat dari dampak atau implikasi
dari masuknya produk global ke dalam produk lokal dengan memanfaatkan potensi kebudayaan sebagai strateginya. Sebagai contoh
penggunaan motif batik indonesia yang dilakukan industri global Adidas pada
produk-produknya. Selain itu dampak atau implikasi untuk budaya lokal indonesia
ialah semakin kabur dan memberikan kesan esklusifisme kepada produk lokal
indonesia karena percampuran dari produk global tersebut.
Maka
untuk menyikapi semua hal tersebut, tergantung bagaimana masyarakat lokal
menyikapinya, dengan segala macam pengaruh global yang masuk melalui industri
dan produk-produknya, seharusnya masyarakat lokal lebih dewasa dalam hal ini,
dengan menerima hal tersebut asalkan masih dalam konteks positif, tetapi jangan
tinggalkan kesan sesungguhnya dari kebudayaan yang telah dimanfaatkan produk
global dan tetap cinta kepada produk lokal dan tidak menghilangkan karakter
pasar lokal yang sudah menjadi karakter atau identitas perekonomian lokal,
dengan begitu dapat meminimalisir dampak atau implikasi dari strategi
glokalisasi yang dilakukan industri global melalui produk-produknya, serta
dengan begitu juga tidak akan ada pergeseran nilai-nilai tradisi lokal yang
merupakan identitas dan jatidiri dari kebudayaan lokal suatu negara.
DAFTAR
PUSTAKA
Globalization,
security, and the nation-state : paradigms in transition / edited byErsel
Aydinli & James N. Rosenau.
See Richard Barbrook, “The Digital
Economy,” (posted to nettime
on 17 June 1997; also at
www.nettime.org; Dalam Free Labor Producing Culture For The Digital
Economy The real not-capital is labor. Karl Marx, Grundrisse.
McCormack, Brian (2002) Postcolonialism
in an Age of Globalization: Opening International Relations Theory to
Identities in Movement, Alternatives
27 (1), pp. 99–116.
The grobal in
the sporting glocal, DAVID
L. ANDREWS AND
GEORGE RITZERPhysical
Cultural Studies Program, Department of Kinesiology, 2359 HHP Building, University of
Maryland, College Park,
Word
Count : 2.797
[1]
Globalization, security, and the
nation-state : paradigms in transition / edited byErsel Aydinli & James
N. Rosenau.
[2]
See Richard Barbrook, “The Digital
Economy,” (posted to nettime
on 17 June 1997; also at
www.nettime.org; Dalam Free Labor Producing Culture For
The Digital Economy The real not-capital is labor. Karl Marx, Grundrisse.
[3]McCormack, Brian (2002) Postcolonialism
in an Age of Globalization: Opening International Relations Theory to
Identities in Movement, Alternatives
27 (1), pp. 99–116.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar